MEMBONGKAR AKAR MASALAH KONFLIK AGRARIA DAN SOLUSINYA : Refleksi Peringtan Hari Tani Nasional

LATAR BELAKANG

Ketika saya mengatakan tanggal 24 september, apa yang terbayang dalam benak anda? Yups tepat sekali, tanggal 24 september adalah Hari Tani Nasional (HTN), hari dimana juga bertepatan dengan lahirnya UUPA, anda tau apa itu UUPA? Yah UUPA adalah singkatan dari Undang-undang Pokok Agraria. Saat saya memposting artikel yang sedang anda baca ini, umur UUPA sudah mencapai 53 tahun.

88konflik agraria

Btw Hari Tani Nasional kurang begitu dikenal, berbeda dengan hari-hari peringatan lainnya seperti hari valentine, hari ibu, hari ayah atau hari apalah ah capek  nyebutin satu satu. Yang jelas saya tidak akan menuntut kado dari anda, tapi saya hanya ingin mengajak anda semua untuk merenung sejenak, sembari melihat kembali kebelakang, mengevalusi ulang sudah sampai dimana progres dari UUD 1945 dan UUPA.

Apa sih yang diamanatkan oleh UUD 1945 dan UUPA? Yang diamanatkan adalah “Bumi beserta isinya dimanfaatkan sebanyak-banyaknya untuk memenuhi kepentingan rakyat”. Dulu ketika rakyat Indonesia berhasil mengusir penjajah, para fouding father kita langsung merumuskan ideologi bangsa dan konstitusi, kemudian mereka juga mengganti beberapa produk hukum belanda dengan produk hukum sendiri. Salah satu dari hasil kerja keras para pendiri bangsa ini, mereka menghasilkan sebuah Undang-undang yang kemudian diberi nama UUPA.

Sebelum UUPA berlaku kita tunduk pada Agrariche Wet, Agrariche Wet sendiri adalah perbaikan dari cultuur stelsel (tanam paksa). Meskipun perbaikan, namanya produk hukum penjajah tetap saja isinya menguntungkan bagi pihak penjajah dan merugikan bagi rakyat Indoesia. Iya iya lah, masa iya iya deh. Hohoho

Nah singkat cerita nih, setelah 12 tahun lamanya bapak-bapak pendiri bangsa ini merumuskan UUPA, pada tahun 1960 kita UUPA resmi di undangkan. Salah satu dari sekian banyak tujuan dari UUPA ini adalah Landreform, Landreform pada hakikatnya adalah mengembalikan, membagi-bagikan kembali tanah kepada Rakyat. Sebelum UUPA, kan kita dijajah dan kita tidak bisa leluasa dalam mengelola tanah, nah pas merdeka barulah kita membagi-bagikan tanah itu. Itulah hakikat dari landreform. Nama lain dari landreform adalah Reformasi Agraria.

Oleh karena itulah pada tanggal 24 september diperingati sebagai Hari Tani Nasional, sebagai landasan hukumnya Presiden Soekarno mengeluarkan keputusan tanggal 26 Agustus 1963 No 169/1963. Keputusan ini masih belum dicabut dan masih berlaku sampai saat ini. Akan tetapi pada jaman Orde Baru, HTN jarang diperingati karena orang-orang pada takut tuh dicap komunis. Sebab tahu sendirikan dijaman Orde Baru, yang namanya komunis itu sangat dibasmi sampai keakar-akar, sementara komunis identik dengan gerakan-gerakan buruh dan tani, lihat saja lambang partai komunis (Palu dan Arit).

Sampai disini kita sudah tahu apa itu landreform, apa itu HTN dan latar belakang lahirnya UUPA, serta urgensinya.

GAGALNYA LANDREFORM

Dari sub judul yang saya tulis diatas sudah menunjukan bahwa dibagian ini kita akan membicarakan tentang gagalnya landreform, masih ingat kan maksud dan tujuan landreform? Masih dong. Nah kalau masih ingat, mari kita lanjutkan kepertanyaan lebih dalam lagi, pertanyaanya adalah kenapa landreform gagal? Padahal penjajah sudah pulang? Padahal kita sudah merdeka? Padahal sudah diamanatkan di dalam UUD 1945 dan UUPA? padahal, padahal, padahal. Kenapa masih sering terjadi konflik agraria? Kenapa masih banyak rakyat yang tidak memiliki tanah? Kenapa masih banyak tanah rakyat yang dirampas oleh penguasa, atas nama lembaga Negara, atas nama kepentingan umum, kenapa ini bisa terjadi? Kenapa, kenapa kenapa? Huuuu lebay

Biar tidak bertele-tele, mari kita langsung menuju jawabanya.

Sobat, yang harus anda pahami secara mendalam adalah dimana sistem ekonomi politik kita di indonesia ini adalah sistem ekonomi politik kapitalisme feodal. Saya tidak akan menjelaskannya secara panjang lebar disini, apa itu kaptalisme dan feodalisme. Namun itulah hal yang paling pokok dan mendasar, sistem kapitalisme dan feodalisme yang pernah diterapkan oleh penjajah di negeri ini masih mengakar kokoh dan kuat, sehingga sekalipun kita sudah merdeka secara yuridis, kenyataannya kita masih tetap miskin, petani kita belum juga sejahtera.

Menurut Nin Yasmine Lisasih S.H., M.H. Secara akademis dapat dikemukakan bahwa penyebab terjadinya konflik di bidang pertanahan antara lain adalah “keterbatasan ketersediaan tanah, ketimpangan dalam struktur penguasaan tanah, ketiadaan persepsi yang sama antara sesama pengelola negara mengenai makna penguasaan tanah oleh negara, inkonsistensi, dan ketidaksinkronisasian. Ini baik secara vertikal maupun secara horizontal peraturan perundang-undangan yang ada kaitannya dengan tanah, praktek-praktek manipulasi dalam perolehan tanah pada masa lalu dan di era reformasi muncul kembali gugatan, dualisme kewenangan (pusat-daerah) tentang urusan pertanahan serta ketidakjelasan mengenai kedudukan hak ulayat dan masyarakat hukum adat dalam sistem perundang-undangan agraria”.

Inkonsistensi dan ketidaksinkronisasian secara perundang-undangan, dapat dilihat beberapa peraturan perundangan yang jelas-jelas merugikan rakyat antara lain:

  1. UU No. 25/2007 Penanaman Modal
  2. UU No. 41/1999 Kehutanan
  3. UU No.18/2004 Perkebunan
  4. UU No.7/2004 Sumber Daya Air
  5. UU No.27/2007 Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
  6. UU No.4/2009 Minerba
  7. UU Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan dan
  8. Peraturan Pemerintah No. 72

Senada dengan Nin Yasmine Lisasih S.H., M.H., Noer Fauzi Rachman mengatakan bahwa akar permasalahan konflik agraria yang terjadi di Indonesia ini adalah konflik Agraria struktural, menurutnya konflik Agraria struktural adalah “pertentangan klaim yang berkepanjangan mengenai siapa yang berhak atas akses terhadap tanah, sumberdaya alam, dan wilayah antara satu kelompok rakyat pedesaan dengan badan pennguasa dan/atau pengelola tanah yang bergerak dibidang produksi, ekstraksi, konvensi dan lainnya”

Kehadiran perusahaan perkebunan besar (PTPN & Perkebunan Swasta) tidak jarang menjadi ”monster ganas” yang dengan semena-mena merampas tanah-tanah masyarakat petani, dengan diback up kekuasaan ”oknum pejabat” sehingga kehadiran mereka tak jarang menjadi malapetaka besar bagi masyarakat petani maupun masyarakat hukum adat yang telah sejak awal mendiami wilayah tersebut secara turun temurun[1]. Saya kira kita masi pada ingat semua tuh kasus Bima di NTB, kasus Mesuji di Lampung dan berbagai kasus lain yang tersebar di seluruh Nusantara

Itulah sebabnya, agenda landreform di indonesia yang sudah direncanakan sejak dulu tidak berhasil. Pemerintah bukannya tidak melakukan perbaikan, tahun 2004 lalu presiden juga sudah melakukan langkah-langkah untuk menyelesaikan persoalan agraria, kemudian pemerintah juga membentuk komisi penyelesaian konflik agraria. Namun lagi-lagi semua tidak berjalan sebagaimana mestinya. Menurut analisis saya, konflik ini akan terus berjalan jika bukan rakyat sendiri yang turun tangan. Rakyat harus merebut kembali dari tangan penguasa dan pengusaha, rakyat harus bangkit melawan segala bentuk penindasan yang melilit bangsa ini. Persoalan agraria tidak bisa selesai hanya dengan jalur hukum, tapi persoalan agraria hanya bisa diselesaikan dengan langkah-langkah politik kerakyatan. Bukan Reformasi Tanah yang dibutuhkan rakyat, tapi Revolusi Tanah. Inilah poin penting dari artikel ini. Jika reformasi tidak bisa dilakukan, maka revolusi tanah adalah jalan satu-satunya untuk bisa keluar dari lilitan sistem kapitalisme yang menyengsarakan rakyat. Mulai sekarang, jargon Landreform kita ganti menjadi Landrevol.

 

Selamat Hari Tani Nasional

Robby Aneuknangroe


[1] Hasim Purba, Reformasi Agraria dan Tanah Untuk Rakyat: Sengketa Petani Vs Perkebuna, Hal 163

About Robby aneuknangroe

konsultasikan masalah Hukum Anda, Saya siap membatu secara gratis.

Posted on 29 September 2013, in Hk. Agraria, Legal Opinion and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Ada pertanyaan?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: