SEJARAH SINGKAT PEMIKIRAN TENTANG NEGARA : zaman Yunani dan Romawi kuno

ZAMAN YUNANI KUNO

Socrates

images

Bangsa Yunani adalah sebuah bangsa yang  kriti  Praktek kehidupan masyarakat Yunani kuno dalam negara kota (city state) telah  menunjukkan struktur sebuah negara dengan berbagai bentuknya sebelum muncul tokohtokoh pemikir kenegaraan.  Masyarakat pada masa itu dibagi menjadi tiga kelas utama, yaitu budak (slaves),  orang asing (foreign or metic), dan warga negara (citizens).

Adalah Socrates (470 – 399 SM) yang pertama kali membicarakan masalah-masalah kenegaraan  secara sistematis. Socrates menyatakan bahwa tugas negara adalah mendidik warga negara dalam keutamaannya, yaitu memajukan kebahagiaan warga negara dan membuat jiwa mereka  sebaik mungkin.

Plato

images (1).jpg pl

Pandangan Plato tentang negara dilandasi oleh pendapatnya tentang dunia yang terdiri dari dua macam, yaitu (1) dunia cita (ideenwerwld) yaitu “kenyataan sejati” yang ada dalam alam tersendiri terpisah dari “dunia palsu” dan bersifat immateriil, dan (2)  dunia alam (natuurwereld) yaitu dunia fana yang palsu dan bersifat materiil.

Perilaku manusia dan cita-cita tersebut harus dijalani manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam memenuhi kebutuhan hidup tersebut manusia tidak bisa melakukan sendiri, dan sesuai keahliannya masing-masing manusia saling membantu dengan pembagian tugas masing-masing

Epicurus (341-270 SM)

Epicurus

Teori yang dikemukakan oleh Epicurus adalah teori individualistik. Masyarakat ada karena adanya kepentingan manusia. Setiap orang pada prinsipnya mencari keuntungan dan kebaikan bagi diri sendiri (All men are essentially selfish and seek only their own good). Sehingga yang memiliki kepentingan bukan masyarakat sebagai kesatuan tetapi manusia-manusia warga masyarakat. Negara juga tersusun atas kepentingan-kepentingan tersebut

Zeno (Κ 300 SM)

zeno_of_elea

Zeno melihat kodrat manusia terletak pada budi manusia yang merupakan zat hakikat sedalam-dalamnya dari manusia. Sedangkan agama bersifat pantheistisch, yaitu Tuhan berada di mana-mana. Tuhan merupakan kodrat itu sendiri. Sehingga kodrat manusia juga merupakan sebagian dari Tuhan itu sendiri. Hukum yang lahir dari akal budi manusia juga sebagian dari kodrat Tuhan. Karena Tuhan bersifat kekal dan langgeng, maka hukum juga bersifat kekal dan langgeng. Negara adalah bagian dari Tuhan yang patheistik. Sehingga negara tidak perlu dibatasi berdasarkan wilayah tertentu atau atas dasar nasionalisme yang dipandang emosional dan kolot. Warga negara tidak perlu mencintai negaranya, namun hanya sekedar mentaati undang-undang.

Polybios (204-122 SM)  akhir masa Yunani

preview_html_m67c86a52

Bentuk negara tertua menurut Polybios adalah monorki, yaitu pemerintahan yang dijalankan oleh satu orang. Namun pemerintahan ini kemudian dijalankan dengan tidak  baik oleh penggantinya (pewarisnya) dengan bertindak semena-mena dan demi  kepentingan sendiri. Negara dengan pemerintahan ini disebut dengan bentuk negara tirani.

Rakyat memilih dan mengangkat beberapa orang dari kaum cerdik pandai untuk memerintah, maka muncullah bentuk negara aristokrasi. Pemerintahan aristokrasi ini kemudian mengalami kemunduran karena kaum  cerdik pandai ternyata kemudian memerintah demi kepentingan sendiri tanpa  memperhatikan kepentingan umum dan hukum yang berlandaskan keadilan. Bentuk negara  ini disebut oligarki. Pemerintahan oligarki yang buruk menimbulkan perlawanan rakyat hingga memperoleh kemenangan yang kemudian membentuk pemerintahan rakyat. Pemerintahan  ini dipegang oleh dan untuk rakyat, yang disebut bentuk negara demokrasi. Apabila bentuk demokrasi mengalami kemunduran, karena kemampuan memerintah yang kurang dari  rakyat sehingga muncul kondisi chaos, maka disebut bentuk negara okhlokrasi.  Pemerintahan okhlokrasi ini menimbulkan keinginan rakyat untuk adanya perbaikan, kemudian muncul “primus inter pares” seorang warga yang berani memimpin negara itu,  maka bentuk negara kembali menjadi monarki.

Masa Romawi

Tidak banyak terdapat perkembangan pemikiran kenegaraan yang muncul. Tokoh pemikir yang utama pada masa Romawi yang dikena hingga saat ini adalah Cicero dan Ulpianus. Seperti halnya, Polybius, Cicero mempercayai teori sejarah perputaran konstitusi (the historical cycle of constitutions) dan konstitusi yang baik adalah perpaduan dari beberapa bentuk (the excellence of the mixed constitution). Konstitusi Romawi dalam pandangannya merupakan yang paling baik dan stabil dari pengalaman pemerintahan yang pernah ada.

Karena tidak adanya pemikir masa itu, namun rakyat romawi menginginkan prinsip demokrasi masa Polis Yunani diterirapkan, muncullah doktrin Caesarismus yang memunculkan Caesar sebagai penguasa mutlak. Caesarismus adalah model perwakilan di mana Kaesar menghisap kedaulatan rakyat. Model ini dibenarkan oleh Ulpianus dengan dalil bahwa kedaulatan rakyat itu diberikan kepada Prinsep atau raja melalui suatu perjanjian yang termuat dalam undang-undang yang disusun olehnya dan termaktub dalam lex regina (hukum perdata). Setelah kekuasaan diberikan kepada Princep, maka rakyat tidak dapat lagi mengambil ataupun meminta pertanggungjawaban perbuatan Princep. Era ini dikenal dengan sebutan (3) Era Prinsipat.

sumber 

About Robby aneuknangroe

konsultasikan masalah Hukum Anda, Saya siap membatu secara gratis.

Posted on 1 Oktober 2013, in Ilmu Negara and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Ada pertanyaan?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: